Minggu, 29 Januari 2017

PERSIA DI ASIA TENGAH


DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.                                                                                           1
BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 2
A.    Latar Belakang Masalah................................................. 2
B.     Rumusan Masalah.......................................................... 3
C.     Tujuan Penulisan............................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN....................................................................... 4
A.    Persia dan Asia Tengah................................................. 4
B.     Pengaruh Persia di Asia Tenga...................................... 5
1.      Bahasa.................................................................. 5
2.      Arsitektur............................................................... 6
3.      Tokoh-Tokoh Ilmuan dan Karyanya....................... 7
4.      Ilmu Sastra dan Ilmu Pengetahuan.......................... 9
5.      Adat Dan Tradisi................................................... 10
BAB III PENUTUP................................................................................ 11
                     A. Kesimpulan................................................................... 11
DAFTAR SUMBER.............................................................................. 12





BAB I
PENDAHULAN
A.Latar Belakang Masalah
Berakhirnya kolonialisme dan imperalisme Barat di negara-negara Islam, telah mengetuk kesadaran umat akan keterbelakangan, kebodohan, kejumudan dan ketertindasan. Kesadaran ini lebih terasa lagi ketika diingat bahwa lintasan sejarah Islam pernah menorehkan tinta emas peradabannya. Islam pernah berada dalam posisi terdepan dalam penggung peradaban dunia, berbarengan dengan keunggulannya di berbagai dimensi kehidupan ekonomi, Ilmu Pengetahuan, militer, politik dan sebagainya. Sebelum Islam masuk salah satu bangsa yang menjadi sebuah imperium kekuatan dunia ‘Persia’ adalah salah satu bangsa tersebut yang meninggalkan jejak peradaban di kancah sejarah islam.
Nama Persia sangat terkenal di seluruh dunia karena sejarahnya yang unik dan menarik untuk di bicarakan. Suku bangsa yang mendiami mayoritas wilayah Iran saat ini adalah juga cikal bakal dari negara Iran. Bangsa Persia tersebar hampir ke seluruh Timur Tengah, namun menjadi mayoritas di belahan bumi lain seperti Asia tengah dan sekitarnya. Persia merupakan kebudayaan yang diketahui melakukan kontak dengan Islam untuk pertama kalinya. Sisi Timur dari sungai Eufrat dan Tigris adalah tempat berdirinya kekaisaran Persia pada sekitar abad ke-7. Karena kedekatannya dengan kekaisaran Persia, Islam cenderung bukan saja meminjam budaya dari Persia namun juga mengadopsinya. Arsitektur Islam mengadopsi banyak sekali kebudayaan dari Persia.
. Salah satunya bagian wilayah kekuasaanya dulu yang meliputi Asia Barat atau yang sering disebut Timur Tengah, dan Asia Tengah yang terdiri dari beberapa negara seperti Uzbekistan, kazakstan, Turkmenistan, Tjikistan dan Kirgistan. Persia meninggalkan banyak kebudayaan tentunya juga di Asia Tengah, dimana banyak sekali budaya yang diserap dari Persia seperti Bahasa, Arsitektur lain sebagainya. Budaya yang diserap itu meninggalkan dampak dan pengaruh tersendiri bagi kebudayaan di Asia Tengah. Dalam makalah ini kami akan membahas apa saja pengaruh yang timbul dari kebudayaan yang telah di tinggalkan bangsa Persia di Asia Tengah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah beberapa pengaruh Persia di Asia Tengah?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa sajakah pengaruh Persia di Asia Tengah


BAB II
PEMBAHASAN
A. Persia Dan Asia Tengah
Imperium Persia didirikan oleh Cyrus I pada 559 SM. Setelah  berhasil  mendirikan  kekaisaran,  Cyrus  berusaha  untuk menguasai  wilayah-wilayah  di  sekitarnya. Pada masa Darius I kekuasaan Persia telah  membentang luas dari Laut Kaspia, India sampai ke Timur Tengah. Juga Persia  merupakan  salah  satu  elemen  peradaban  Timur  yang berlokasi  di  Iran  sekarang.  Iran  terletak  di  daerah  lembah  Mesopotamia, sebuah  kawasan  dengan  peradaban  yang  maju  pada  saat  itu.  Oleh kebanyakan ahli daerah tersebut dikenal dengan “the cradle of civilization” atau  lahirnya  peradaban.  Sementara  istilah  lain  yang  sering  disebutkan antara  lain  “the  fertile  crescent” untuk  menyebut  daerah  yang  subur. sementara  julukan  “the  Levant”  menunjuk  kepada  arah  (dimana  bangsa Arab menyebut  Masyriq).
 Kekaisaran  Persia  adalah  sejumlah  kekaisaran  bersejarah  yang berkuasa di Dataran Tinggi Iran, tanah air asal Bangsa Persia, dan sekitarnya termasuk  Asia  Barat,  Asia  Tengah  dan  Kaukasus.  Saat  ini  nama  Persia  dan Iran  sudah  menjadi  kebiasaan.  Persia  digunakan  untuk  isu  sejarah  dan  kebudayaan sedangkan, Iran digunakan untuk isu politik.[1] Persia merupakan sebuah bangsa yang sangat dikenal dan memiliki peradaban yang panjang.
Persia yang saat ini menjadi bagian dari negara Iran sesungguhnya adalah sebuah kerajaan besar yang pada saat itu meliputi Babylonia, Asia Tengah, Palestina, Suriah, seluruh Asia kecil bahkan Mesir. Kejayaan itu berlangsung hingga tahun 330 SM, sebelum dimana kerajaan Romawi dibawah pimpinan Alexander Agung menaklukan wilayah Persia.[2] Kemudian sejak tahun 640 M Persia telah di kuasai Islam. Pemerintahan islam seperti Abbasiyah (750-1258) dan bermacam-macam dinasti lokal banyak berdiri disekelilingnya, seperti Tahiriyah, Samaniyah dan Safariyah, kemunculan mungkin akibat akumulasi sejarah yang sangat kompleks, sebagian diantaranya akibat kekecewaan politik orang-orang Persia terhadap bangsa Arab, juga adanya pertemuan Kultural Arab-Persia yang “terlembagakan” melalui pernikahan antara Hussain anak dari Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah) dengan putri Kaisar Persia.[3]
Sementara itu, Sebelum mengetahui bagaimana perngaruh Persia di Asia Tengah kita terlebih dulu harus mengetahui tentang apa yang di maksud dengan Asia Tengah. Asia Tengah sendiri merupakan bagian dari Imperium kekuasaan Persia pada saat itu, dan saat ini Asia Tengah adalah sebuah kawasan yang terkurung daratan di Benua Asia dimana terbagi menjadi beberapa negara kecil seperti Uzbekistan, Turkmenistan, Kirgistan, Kazakstan dan Tajikistan. Banyak arti yang berbeda dalam komposisi wilayah yang sebenarnya. Menurut sebuah definisi, Asia Tengah mencakup sekitar 9.029.000 km², atau 21% dari benua.
Terdiri dari beberapa wilayah yang sangat luas dengan jenis daratan yang bervariasi, misalnya tanah datar tinggi dan pegunungan (Tian Shan), gurun luas (Kara Kum, Kyzyl Kum, Taklamakan), dan tanah datar berupa rerumputan. Kebanyakan tanah sangat kering atau sangat kasar untuk dijadikan sebagai sawah. Mata pencaharian mayoritas penduduk ialah penggembala. Aktivitas industri berada di perkotaan.[4] Asia Tengah telah lama menjadi wilayah perdagangan antara Tiongkok dan masyarakat Barat, dengan Jalur Sutra melewati wilayah ini dan menjamurnya banyak kerajaan di sini. Pada lima abad terakhir kebanyakan wilayah ini dijajah oleh kekaisaran Rusia dan Kerajaan Tiongkok. Semasa abad ke-20 Asia Tengah bagian dari bekas aluran Komunis Uni Soviet, yang pecah pada tahun 1991.
B. Pengaruh-Pengaruh Yang Ditinggalkan Persia Terhadap Asia Tengah
1. Bahasa
Bahasa Parsi sebagai bahasa literatur/sastra berkembang luas dan menyeluruh. Beberapa dinasti keturunan Turki juga menjadi pendukung setia seni dan literatur serta membawanya ke (Asia Tengah), Anatolia dan kawasan-kawasan penutur basaha Turki Transoxania serta India. Bahasa Persia ini kemudian mendapatkan tempat kembali menggantikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan dan kesusasteraan.
Berbagai kumpulan besar syair dan prosa Persia muncul dalam kawasan ini. Pada dasarnya, literatur Persia bukan hasil karya dan ciptaan orang-orang Persia semata, tetapi juga hasil dari sebuah sebuah wilayah kultural yang lebih lebar dan luas. Namum, kekuatan kreatifitasnya berakar di Iran.[5]
Di antara  Kirgizstan,  Kazakhstan,  Uzbekistan,  dan Turkmenistan. Tajikistan adalah negara yang tidak menggunakan bahasa Rusia tetapi menggunakan bahasa Persia yang ditulis dengan huruf Sirilik. Bahasa  Tajik.  Bahasa  Parsi  itu  bahasa  Tajik  juga.  Kalau  di  Iran  disebut bahasa Parsi, di Afghanistan disebut Dari, di Tajikistan disebut Tajik. Masing-masing ada  perbedaanya  sedikit  tetapi  itu  bahasa  yang  sama,  tetapi  bahasa Persia di Tajik jauh lebih kuno, lebih tradisional, tetapi mereka menggunakan huruf Sirilik, huruf Rusia tetapi masih bahasa yang sama. Kalau di Iran dan Afghanistan bahasa Parsi ditulis menggunakan huruf Arab.[6]
2. Arsitektur
Yang akan dibahas di sini adalah arsitektur Persia islam yang berkembang pada masa permulaan Syiah. Kemajuan di bidang matematika mempengaruhi akuratnya kesimetrisan pada semua bagian bangunan dan hiasannya. Teknologi yang berkembang pada saat itu bisa membuat bangunan yang tanpa jendela tidak membutuhkan lampu pada saat siang, cukup dengan permainan cermin yang menggunakan sinar matahari sebagai bahan cahayanya.
Kubah yang berbentuk seperti helm prajurit muslim, menara dengan satu balkon, arch yang meruncing, dan dominasi warna biru pada bangunannya menjadi identitas utama arsitektur Persia islam. Tidak ketinggalan pula hiasan staglimit pada gerbang dan penyangga kubah dan pengaturan taman dan air mancur tanpa mesin pompa. Daerah Persia memang menjadi pusat ilmu pengetahuan pada masa lampau, sehingga hal ini mempengaruhi teknologi pada bangunan di setiap daerah dan wilayah kekuasaannya pada waktu itu. Dengan hukum archimedes, air mancur pada taman masjid bisa berfungsi secara alami tanpa harus memakai pompa. Arsitektur Persia Islam memang tidak bisa lepas dari pengaruh Persia kuno.
Sampai sekarang baik Iran maupun negara-negara Asia Tengah dan sekitarnya sangat mengagungkan bangunan Gerbang sehingga dibangun dengan ukuran yang sangat besar, kubah yang berukir penuh, penataan jendela dan ornamen yang khas, menara yang berbeda dengan menara pada gaya yang lainnya, sampai pengaturan tamannya. Contoh karya terbesar dari arsitektur Persia ini adalah Masjid Samarkand di Uzbekistan, Masjid Kashgar dan Idkah di Xinjiang China dan Masjid Agung St. Petersburg di Rusia.
3. Tokoh-Tokoh Ilmuan dan Karyanya
Di dalam semua bidang pendidikan berikut ini tokoh-tokoh ilmuan yang karyanya dan penemuan-penemuannya memiliki begitu banyak manfaat dan kegunaan yang masih bisa dirasakan hingga saat ini, terlahir dari keturunan Perisa. Para tokoh ilmuan ini terkenal hingga keseluruh negeri dengan karyanya masing-masing yang mendunia dan juga berpengaruh bagi kawasan Asia Tengah khususnya bagi umat di seluruh dunia.
Di tanah inilah lahir para ulama dan pemikir yang sangat berpengaruh di dunia Islam. Seperti Imam Al-Bukhari, beliau dianggap sebagai salah satu penyampai hadis yang diakui kesahihannya, beliau adalah putra Bukhara, provinsi di wilayah Barat Uzbekistan dan juga dikenal sebagai salah satu  pusat ilmu pengetahuan, budaya dan seni bagi Islam. Selain imam Bukhari, juga dikenal imam-imam lain seperti,  Imam Muslim, Imam Al-Ghazali, ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Biruni, Al-Kindi, Al-Haitami, dan lain-lain. Para imam mengelola lebih dari 110 madrasah dan mereka mengajar di sekolah-sekolah dasar. Beberapa tokoh dan karyanyan antara lain:
Ø  Muhammad Bin Musa Al-Khawarizmi
 Al-Khawarizmi di lahirkan pada tahun 164 H (780 M) didaerah Khawarizmi di Asia Tengah. Dia wafat di Baghdad pada tahun 232 H (847 M). Al-Khawarizmi memiliki beberapa hasil penelitian ilmiah dan buku-buku yang dikarang matematika (menghitung, aljabar, dan geometri), astronomi (Ilmu Falak) dalam karyanya “As-Sanad Hind”, geografi menulis buku “Shurotul Al-Ardh” dan juga menulis “Taqwim Al-Buldan”.
Ø  Abu Ar-Raihan Al-Biruni
Al-Biruni dilahirkan pada tahun 362 H (973 M), disalah satu pinggiran kota Kats yang merupakan pusat kota Khawarizmi di Asia Tengah. Inilah yang menyebabkan ia dipanggil dengan nama Al-Biruni, karena Birun adalah bahasa Persia yang berarti pinggiran kota. Beliau adalah seorang ilmuan dalam bidang matematika dalam karyanya yang berjudul “Kitab Al-Masa’il Al-Handasiyyah”, dalam bidang Geologi dalam karyanya “Al-Jamahir Fi Ma’rifatil Jawahir”, ilmu Astronomi dalam karyanya “At-Tafhim Li Awa’il Shina’at At’tanjin, dalam bidang Geografi dalam bukunya “Shifatul Ma’murah” dan dalam bidang lainnya seperti Biologi, Farmakologi (obat-obatan) Humaniora dan Sastra yang dikenal dengan “Thariq al-Hindi”.
Ø  Ibu Sina
Ibnu Sina dilahirkan di desa Avasna, di dekat propinsi Bukhara-sekarang Uzbekistan, Persia pada tahun 270 H (980 M). Ibnu Sina memiliki pernanan menonjol dalam bidang kedokteran dan berbagai cabangnya. Dia telah melakukan penelitian yang besar dan mendapatkan penemuan penting yang diabadikan oleh sejarah kedokteran. Ibnu Sina memiliki karya sebanyak 276 buah, baik berupa surat-surat, buku maupun ensiklopedia. Berikut karya-karyanya, Kitab Al-Qonun Fith Thib (Canon Of Medicine), Kitab Arjuzah Ibnu Sina Ath-Thibbiyah, Kitab Mausu’ah Asy-Syifa, yang merupakan ensiklopedia berisi ilmu pengetahuan, seperti fisafat, logika, dan ilmu alam. Dan kitab “Asbab Huduts Al-Huruf”.
Ø  Umar Al-Khayyam
Umar Khayyam adalah seorang berkebangsaan Persia, dia dilahirkan di Nesapor di Iran. Beliau dilahirkan pada tahun 440 H (1048 M). Dia wafat di Naisabur pada tahun 525 H (1131 M). Umar Khayyam dikenal sebagai seorang filsuf dan penyair muslim yang besar. Dia memiliki popularitas khusus karena syair-syairnya yang dikenal dengan sebutan “Rubaa’iyyat Al-Khayyam” (Syair Empat Baris Al-Khayyam). Dan beliau juga seorang ilmuan dalam bidang matematika, astronomi, fisika dengan karyanya Risalah Fi Hisab Al-Hindi, Zaij Maliksyah, dan masih banyak lagi.
Ø  Abdurrahman Al-Khazin
Tentang tempat kelahiran dan kehidupan Al-Khazin bisa dikatakan tidak banyak diketahui. Namun menurut pendapat mayoritas ahli sejarah, dia dilahirkan pada pertengahan pertama dari abad ke-enam hijriyah, bertepatan dengan pertengahan pertama dari abad ke 12 M di kota Marwu di kawasan Khurasan Persia. Dia menimba ilmu di tempat kelahirannya. Karya Al-Khazin terfokus kepada dua disiplin ilmu tersebut pada saat ini dikenal dengan Ilmu Hidrostatik (salah satu cabang dari ilmu fisika) dan Ilmu Static (salah satu cabang dari ilmu mekanik). Beberapa karyanya antara lain, Mizan Al-Hikmah Dan Az-Zaji Al-Mu’tabar As-Sanjari.[7]
            Saat ini semua karya-karya dari para tokoh-tokoh ilmuan terkemuka tersebut masih dipelajari, bukan hanya di daerah Khawarizmi yang sekarang adalah Uzbektistan. Tetapi juga diseluruh dunia masih tetap mempelajarinya karena memang mereka adalah tokoh-tokoh penting dengan berbagai penemuan-penemuan yang penting dan juga bermanfaat bagi seluruh umat manusia yang ada di bumi ini.
4. Ilmu Sastra dan Illmu Pengetahuan
Penggunaan  bahasa  selalu  mencerminkan  pandangan  budaya  dari  identitas  pribadi. Begitu  pula  yang  terjadi  di  Tajikistan (Asia Tengah).  Ketika  masyarakatnya  masih  mempertahankan bahasa Persia dalam percakapan sehari-hari hal ini ikut mewariskan kultur  puisi  yang  terbawa  dari  budaya  Persia.  Masyarakat  Tajikistan  hingga  kini masih  menggunakan  puisi  untuk  menyanjung  seseorang,  menyambut  tamu,  dan sebagainya. Kultur puisi di sana sangatlah kuat. Jadi,  di  satu  sisi  yang  tetap  respek  dengan  budaya  Tajikistan  karena mereka  banyak  terpengaruh  oleh   budaya  Persia,  sebagaimana  seperti  di Afghanistan  dan  Iran  mereka  sangat  kuat  dalam  hal  berpuisi.[8]
Jika  mereka bertemu  dengan  orang,  seringkali  mereka  memberikan  puisi-puisi  kuno, mereka  sering  menyatir  puisi  pujangga-pujangga kuno. Perkembangan Iptek di Uzbekistan juga pada masa jayanya Islam sangat pesat contohnya saja di Kota Bukhara, misalnya, menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan, budaya dan seni bagi Islam. Keistimewaan-keistimewaannya bahkan pantas disejajarkan dengan pusat-pusat magnet dunia Islam sekelas Baghdad, kairo dan Kordoba.
5. Adat dan Tradisi
Nouruz merupakan tradisi perayaan awal musim semi atau perayaan sebelum atau sesudah tahun baru masyarakat Persia kuno yang hingga kini masih bertahan. Tradisi ini diperkirakan telah berumur lebih dari 3 ribu tahun dan terbilang sebagai unsur kebudayaan lintas bangsa yang tertua di dunia. Nouruz adalah manifestasi penghargaan terhadap kehidupan, alam, dan nilai-nilai kemanusiaan yang berakar kuat pada tradisi sastra, adat-istiadat, seni, dan tradisi keluarga dan masyarakat di berbagai negara Asia Tengah dan sekitarnya.
Setiap perayaan Nouruz diberbagai negara Asia Tengah ini cukup berbeda-beda, seperti di Uzbekistan merayakan Nouruz setiap tanggal 21 Maret. Selama perayaan tahun baru berlangsung, warga mengenakan pakaian serba baru, bersilaturahmi ke sanak saudara dan banyak juga yang memilih untuk bertamasya ke tempat-tempat rekreasi. Di Tajikistan mengawali tahun baru Nouruz dengan menyantap sarapan khusus berupa kue-kue bercitarasa legit dan manis. Dengan itu, mereka berharap kehidupannya di tahun-tahun yang akan datang senantiasa terasa manis dan dikarunia kebahagiaan. Sementara itu di Kazakhstan, warga meyakini Nouruz sebagai harmonisme musim semi. Mereka percaya pada hari itu, bintang-gemintang kembali pada titik awal perederannya, sehingga segala hal menjadi baru dan bumi dipenuhi keceriaan.[9]

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Imperium Persia meliputi berbagai wilayah dengan cakupan yang sangat luas hingga mencakup wilayah Timur Tengah dan sekitarnya. Perluasan wilayah tersebut membawa pengaruh yang kental terhadap apa yang ditinggalkan bangsa Persia pada wilayah perluasannya, seperti adat istiadat, Bahasa, tokoh-tokoh pemikir islam yang berdarah Persia dan karya-karyanya, hingga ke Arsitektur bangunannya. Semua itu berdampak pada semua negara yang pernah di duduki terutama di wilayah Timur Tengah dan Asia Tengah juga sekitarnya, tak lupa juga berpengaruh pada negara Asia Timur seperti China dan negara besar seperti Rusia, karena memang waktu itu Rusia pernah menjajah Asia Tengah, tak mengherankan bila apa yang ditinggalkan Persia juga berpengaruh pada Rusia.



DAFTAR PUSTAKA
Agustinus Wibowo, (2013), Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah. Bandung.
Ajid Thohir, (2001), Studi Kawasan Dunia Islam, Perspektif Etno-Linguistik Dan Geo-Politik. Jakarta: Raja Wali Pers
Balkis Kalama, (2012). Persia Di Asia Tengah: Jurusan Sejarah Fakultas Adab Dan Humaniora: 03-November-2016
Gaudah M, Gharib. (2007), Ilmuan Terkemuka Dalam Sejarah Islam, Jakarta: Maktabah Al-Qur’an.
Ghulam, Reza Dkk. (2012), Islam, Iran Dan Peradaban: Peran Dan Kontribusi Intelektual Iran Dalam Peradaban Islam: Yogyakarta. Rausyanfikr Institute
HeriWulan,“KekaisarPersia”http://heriwulan462.blogspot.com/2012/11/kekaisaran-persia-sejarah-iran.htmL (18-Juli-2013)
Http://indonesian.irib.ir/ranah/kultur/item/3342_IranIndonesiaRadio_Mengenal_Tradisi_Nouruz_di_Asia_Tengah






[1] Heri  Wulan,  “Kekaisaran  Persia”,  dalam
http://heriwulan462.blogspot.com/2012/11/kekaisaran-persia-sejarah-iran.html (18 Juli 2013)
[2] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam, Jakarta: Raja Wali Pers, 2011, hlm 188
[3] Ibid., hlm 188
[4] Balkis Kalama, 2012. Persia Di Asia Tengah: Jurusan Sejarah Fakultas Adab Dan Humaniora: 03-11-2016
[5] Ghulam, Reza Dkk. (2012), Islam, Iran Dan Peradaban: Peran Dan Kontribusi Intelektual Iran Dalam Peradaban Islam: Yogyakarta, Rausyanfikr Institute, hlm 254.
[6] Agustinus Wibowo, (2013), Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah, hlm 21-22.
[7] M Gharib Gaudah, (2007), 147 Ilmuan Terkemuka Dalam Sejarah Islam, Jakarta, Hlm 248.
[8] Agustinus Wibowo, (2013), Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah, hlm 84.
[9] http://indonesian.irib.ir/ranah/kultur/item/33426-Mengenal_Tradisi_Nouruz_di_Asia_Tengah: 21-11-2016.

Senin, 26 Desember 2016

MAKALAH PENELITIAN MASJID DA'AR EL-TUQO BAYONGBONG PONTANG KABUPATEN SERANG



BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang Masalah
Banten merupakan daerah yang terletak di ujung barat pulau jawa. Banten pada masa lalu merupakan sebuah daerah dengan kota pelabuhan yang sangat ramai, serta dengan masyarakat yang terbuka dan makmur. Banten juga merupakan pulau yang dimana memiliki sejarah yang panjang, terutama mengenai bagaimana masuknya Islam di Banten. Dengan kedatangan Sunan Gunung Jati dan dengan mengirimkan putranya yang bernama Sultan Maulana Hasanuddin ke Banten, membawa perubahan besar dalam kancah keagamaan. Dari yang dulunya beralirkan Animisme dan Dinamisme, Hindu dan Buddha, kini sudah berganti menjadi Islam sepenuhnya. Hal itu juga karena didukung dengan dirikan banyaknya masjid didaerah-daerah tertentu yang terjangkau dengan Islam. Tak luput dari daerah besar atau pun kecil, masjid sudah berdiri dimana-mana di daerah Banten ini, ada yang memiliki sejarah panjang dan ada juga yang memiliki sejarah pendek.
Salah satunya di daerah Pontang, sudah banyak masjid yang dimana juga menyisahkan sejarah paling penting didalamnya. Seperti di daerah Pontang tepatnya di kampung Bayongbong Ds. Linduk RT/RW 17/03, disana berdiri masjid yang bernama masjid Da’ar El-Tuqo, yang menurut informasi yang didapat sudah ada sejak jaman pemerintahan Belanda di Indonesia. Masjid Da’ar El-Tuqo yang dulunya bernama masjid Jami At-Taqwa telah mengalami perbaikan selama dua kali dan yang ketiga kalinya inilah pada tahun 2016 masjid Darul Tuqo sudah resmi digunakan walaupun pembangunannya belum rampung, dan masjid Da’ar El-Tuqo bukanlah bangunan yang berdasarkan pada sejarah panjang yang melibatkan banyak alim ulama atau peristiwa tertentu, melainkan hanya karena sebuah inisiatif tertentu.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Lokasi Dan Sejarah Singkat Masjid
1.      Lokasi Masjid Da’ar El-Tuqo
Masjid yang bernama Da’ar El-Tuqo ini terletak di Jalan Ciptayasa, Km. 13 Pontang-Serang kode pos 42192, tepatnya di Kp. Bayongbong, RT/RW 17/03 Ds. Linduk, Kec. Pontang, Kab. Serang, Prov. Banten. Berdiri tepat ditengah-tengah bangunan rumah warga, dan tepat di antara tiga tikungan yang menuju Idul (Selatan) Elor (Utara) dan jika lurus dari jalan utama maka akan menuju Etan (Barat). Masjid ini terletak cukup strategis karena menjangkau semua sisi baik untuk warga Idul, Elor, Etan tapi untuk warga Ulon jarak yang ditempuh cukup jauh karena harus berjalan melalui jalan utama kampung.
2.      Sejarah Singkat Berdirinya Masjid Da’ar El-Tuqo
Awal berdirinya masjid ini masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat pada jamannya dahulu, antara masayarakat Sabrang Ulon dan Sabrang Etan. Tanah masjid sebenarnya adalah wakaf dari salah seorang saudagar pada jamannya dahulu, beliau bernama Ki Rinjan, yang juga bertepat tinggal di Bayongbong, asal mula dari riwayat Ki Rinjan tidak diketahui baik saya, maupun narasumber, beliau mempunyai inisiatif tersendiri untuk membangun masjid ini yang bernama masjid Jami At-Taqwa, itu pada awalnya, tapi sekarang berubah nama menjadi Da’ar El-Tuqo. Menurut cerita atau sumber yang saya dapat dengan mewawancarai beberapa narasumber, seperti bapak Seh Syarif dan Ibu Sari, mereka mengatakan bahwa Ki Rinjan mewakafkan tanah di Sabrang Etan untuk didirikan masjid, dan warga Bayongbong setuju dengan usul tersebut, akan tetapi golongan Sabrang Ulon menginginkan pendirian masjid didaerahnya, dengan dalih karena banyaknya orang-orang kaya bertempat tinggal didaerah itu, jadi sudah seharusnya ada di Sabrang Ulon.
Namun, pihak dari Sabrang Etan, ternyata memberikan tanggung jawab sepenuhnya pada Sabrang Ulon dan mereka harus sanggup untuk mengurusnya, dan Sabrang Etan tidak akan ikut campur dalam kepengurusan, karena tanah disana bukanlah tanah wakaf. Namun, dari pihak Sabrang Ulon sendiri pun ternyata tidak menyanggupi dan mengemban tanggung jawab sebesar itu. Mereka menyerahkan kembali kepengurusan pembangunan masjid itu pada Sabrang Etan, dan tentulah Sabrang Etan menyanggupinya, karena memang dari awal, tanah yang diwakafkan itu terletak di Sabrang Etan. Sekarang masjid tersebut sudah mengalami dua kali perbaikan, yang pertama yaitu pada tahun 1979 yang disponosri oleh ustd Fathoni selaku penerima wakaf sata itu dan yang kedua pada tahun 2015, hingga saat ini dan masih dalam perbaikan.
B.     Deskripsi Masjid
Masjid Da’ar El-Tuqo ini dibangun pada tahun 1948 diatas ditanah wakaf seluas 200 m2 dan memiiliki luas bangunan 100 m2, dengan ketinggian 24 m. Disetiap sisi terdapat jendela dengan ukuran 275x27 cm dan kedua pintu masuk dari depan masjid dan samping kanan masjid dengan ketinggian 86x197 cm dan terdapat tiang penyangga dengan ketinggian 288 cm. Memiliki dua teras dengan luas 5x5 cm. Masjid ini telah dua kali mengalami perbaikan sekaligus pergantian nama. Perbaikan yang pertama yaitu pada tahun 1979 dan perbaikan yang kedua yaitu pada tahun 2015 dan sampai 2016 ini masih belum selesai dibangun. Dalam masjid ini terdapat beberapa ruangan pendukung lainnya seperti gudang, ruang tunggu khotib, ruang sekretariat DKM dan ketiga ruangan ini terhubung dengan kihrab yang menjorok kedalam. Berikut ini beberapa penjelasan mengenai bangunan masjid seperti mihrab kubah dan mimbar dan beberapa penjelasan mengenai ukuran-ukrannya serta fungsinya:
1.      Mihrab
Menurut penuturan bapak Seh Syarif mihrab di masjid ini berukuran cukup besar dan luas, dengan panjang 95x197 cm dengan luas 5 m2, selain untuk sholat imam, bisa juga untuk menyimpan berbagai benda seperti lemari untuk menyimpan Al-Qur’an dan peralatan sholat lainnya dan juga mimbar pada saat tidak digunakan. Serta didalam mihrab terdapat ruangan lagi yaitu disebelah kanan, gudang, dan disebelah kiri ruang tunggu khotib.
2.      Mimbar
Mimbar sendiri berfungsi untuk pemimpin khotbah saat berceramah didepan jamaah, juga sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh masyarakat yang disegani saat akan melakukan pengumuman didepan jamaah, biasanya ketika menjelang sholat tarawih akan berkahir. Mimbar ini mempunyai ukuran 34x152 cm dan lebar 7x3 cm, bisa kita lihat juga di foto mimbar tersebut berukuran kecil.
3.      Kubah
Kubah yang berbentuk bulat besar hijau ini mempunyai ukuran sebesar 50 diameter dari titik awal kubah hingga kembali ke titik awal, terdapat kubah kecil dipucuk kubah, itu berukuran 5x5 meter dengan gaya arsitektur yang unik, bulat besar. Menurut narasumber, kubah itu dirancang khusus dan didaerah lain tidak ada kubah yang seperti itu, begitu menurut penuturan narasumber.
4.      Menara
Masjid yang kami gunakan ini bertempat di daerah  kampung Bayongbong, desa Linduk, kecamatan Pontang, RT/RW 18/03 ini, tengah diperbaiki yang dimana dimulai pada tahun 2015 dan belum rampung di tahun 2016 ini. Dalam pembangunan tersebut masyarakat kampung Bayongbong tidak menambahkan Menara dalam masjid ini, karena kurangnya lahan dan dana yang sulit dicari.
5.      Gapura
Masjid Da’ar El-Tuqo merupakan nama yang diganti dari sebelumnya yang bernama Jami At-Takwa. Penggantian nama tersebut merubah konsep dan struktur dari masjid tersebut, pasalnya pembangunan awal masjid tidak menerapkan sistem anak tangga, akan tetapi dengan dibangunnya yang ketiga kali ini masjid Darul Tuqo telah memiliki anak tangga yang terletak disebelah kanan dan kiri masjid bagian dalam. Namun masjid ini tidak membangun atau tidak memiliki Gapura karena biaya yang kurang memadai.
C.    Fungsi/Ritual Tertentu
Sebagaimana yang kita ketahui fungsi utama masjid adalah tempat peribadatan terutama bagi kaum muslimin dan muslimah. Diseluruh dunia, masjid bukan hanya menjadi tempat peribadatan, tapi juga tempat-tempat perkumpulan dan lain sebagainya. Di kampung Bayongbong Masjid bukan hanya tempat untuk peribadatan saja, tapi banyak ritual-ritual keagamaan tertentu seperti Marhabanan, Riuangan, pembagian Zakat anak yatim, cukuran saat hari raya dan untuk musayawarah serta mufakat bersama dan lain-lain.
D.    Saran-Saran Perbaikan
Masjid Da’ar El-Tuqo yang dulunya bernama masjid Jami At-Taqwa tidak memiliki lantai dua, akan tetapi setelah pergantian nama dan diadakan pembangunan, ternyata ada penambahan satu lantai hingga menjadi dua lantai. Akan tetapi, masih ada saran-saran yang harus dilakukan dan diperbaiki lagi diantaranya:
ü  Anak tangga dari kedua sisi tidak ada pegangannya, dan itu akan membahayakan orang yang akan menaikinya terutama anak kecil.
ü  Jendela dan pintu, baik pintu masuk atau pun pintu gerbang yang masih belum ditutup.
ü  Lantai yang masih semen dan dinding yang masih belum di cat.
ü  Gerbang utama dan pagar pelindung yang belum di bangun, serta kamar kecil yang belum dipasangi ventilasi tertutup, karena terlihat masih terbuka lebar.
ü  Memerlukan ruang atau bagian untuk menyimpan keranda, karena terlihat dibelakang kamar kecil ada keranda yang sangat jelas terpampang.
ü  perlu perbaikan kipas angin, ada beberapa kipas angin tapi tidak menyala karena kipas angin saat ini masih memakai kipas yang dulu.
BAB II
PENUTUP
2.1  Kesimpulan
Masjid merupakan tempat peribadatan bagi kaum musilim dan muslimat, dan juga tempat untuk mengadakan pertemuan sesama muslim dalam mengeluarkan pendapat dan bermusyawarah bersama serta bermufakat bersama, begitu pula fungsi dari masjid yang ada di daerah Bayongbong.  Masjid Da’ar El-Tuqo pertama kali dibangun pada tahun 1948 dan diperbaiki kembali pada tahun 1979 dan perbaikan kedua dilakukan pada tahun 2015 dan sampai 2016 ini masjid tersebut masih belum selesai dibangun. Dalam pembangunannya, setelah terungkap dan melakukan beberapa penelitian ternyata ada kendala dan masalah yang muncul. Yaitu adanya perdebatan antar semasa penduduk, yaitu anatara Sebrang Etan dan Sebarang Ulon. Dalam perdebatan tersebut saya menemukan titik lemahnya yaitu adanya faktor kecemburuan sosial, sehingga terjadilah perdebatan.










DAFTAR SUMBER
Wawancara
1.      Bapak Seh Syarif, 80 tahun, sesepuh, Di Kp. Bayongbong, Ds. Linduk, Kec. Pontang, Kab. Serang, Jum’at, 21 Oktober 2016, pukul 12:00 Wib
2.      Sari, 50 Tahun, Ibu Rumah Tangga, Di Kp. Bayongbong, Ds. Linduk, Kec. Pontang, Kab. Serang, Jum’at, 22 Oktober 2016, pukul 09:00 Wib.

OTONOMI DAERAH MASA REFORMASI

OTONOMI DAERAH MAKALAH Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Pergerakan Indonesia Modern   Disusun ...