Jumat, 26 Mei 2017

RESENSI BUKU : KAMIKAZE: AKSI BUNUH DIRI "TERHORMAT" PARA PILOT JEPANG



KAMIKAZE: AKSI BUNUH DIRI “TERHORMAT” PARA PILOT JEPANG
Karya: NANDO BASKARA
A.    Pendahuluan
Identitas buku:
1.      Judul buku              : Kamikaze: Aksi Bunuh Diri “Terhormat” Para Pilot Jepang
2.      Nama penulis          : Nando Baskara
3.      Tahun terbit            : 2008
4.      Kota terbit              : Yogyakarta
5.      Penerbit                  : NARASI
6.      Harga buku             : RP. 25.000
7.      Tebal buku              : 160 hlm; 15 x 23 cm
8.      ISBN                      : 979-168-097-3
B.     Isi Buku
Ulasan mengenai tema buku:
         Tema dalam buku “Kamikaze: Aksi Bunuh Diri “Terhormat” Para Pilot Jepang” ini sangat berkaitan erat dengan kemiliteran dan juga perang. Dalam buku ini penulis menggambarkan pasukan perang Jepang atau kemiliteran Jepang sebagai pasukan bunuh diri yang disebut dengan “Kamikaze”. Kamikaze sendiri disebutkan dalam sejarah Jepang ketika armada laut Kubilai Khan mencoba memasuki laut Jepang pada tahun 1281. Usaha itu gagal karena angin topan tiba-tiba munculdan memukul mundru armada penyerang. Oleh orang Jepang, angin topan itu dianggap sebagai penolong kiriman dewa, yang dalam bahasa Jepang disebut Kamikaze. Kami artinya dewa, sedangkan Kaze artinya angin.
         Atas dasar pengalaman itu, maka Jepang yang mengkhawatirkan serangan Armada AS di Samudra Pasifik akhirnya membentuk skuadron Kamikaze pada 1944. Pada konsep Kamikaze ini, Jepang membentuk sekelompok pilot muda yang ditugaskan menerbangkan pesawat berbahan peledak, umumnya hanya sebuah bom. Dengan berjibaku mereka menjatuhkan pesawatnya keatas kapal perang atau instalasi musuh. Dalam hal ini militer Jepang telah menciptakan pasukan bunuh diri, yaitu dengan menjatuhkan pesawat yang para pilot kendarai itu pada musuh-musuh mereka. Dalam hal ini pula, Jepang kehilangan lebih dari 330 pesawat, termasuk para pilotnya yang tak tergantikan.
         Dalam hal ini, penulis bermaksud menyampaikan kepada pembaca mengenai judul diatas bahwasannya penulis ingin agar pembaca mengetahui sejarah panjang kemiliteran Jepang yang dimana saat itu dimulai dengan istilah Samurai atau Bushido. Dan dari waktu ke waktu, dan dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya, Samurai atau Bushido telah tergantikan dengan pasukan militer yang juga memakai Konsep Kamikaze. Dalam buku ini penulis memberikan judul di setiap babnya, dan terdiri dari 6 bab, diantaranya:
Bab 1 Negeri Para Samurai
         Berisi catatan singkat tentang Sejarah Jepang dari awal kekaisaran sampai perang dunia. Juga berisi asal usul terbentuknya kemiliteran di Jepang.
Bab 2 Petaka Di Pearl Harbour
         Pada bab ini berisi mengenai serangan tentara Kamikaze Jepang yang menyerang Pearl Harbour di Amerika sehingga menyulut api kemarahan dan sebagai gantinya Jepang di bom didua kota Hiroshima dan Nagasaki.
Bab 3 Perang Dahsyat Di Pasifik
         Pada bab tiga ini diceritakan mengenai perang pasifik yang terjadi pada 7 Desember 1941 -2 Desember 1945. Pemicu dari perang Pasifik ini tidak lain adalah karena perang dunia II yang saat itu terdapat dua kelompok yang bertikai yaitu sekutu dan poros.
Bab 4 Kamikaze, Sang Dewa Angin
         Pada bab ini dikhususkan menceritakan asal usul lahirnya Kamikaze dan bagaimana aksi-aksi mereka ditunjukan dala bab ini.
Bab 5 Kamikaze, Bushido, Dan Harakiri
         Kemudian, pada bab 5 ini Kamikaze dikisahkan sebagai pahlawan yang dimana para pilot itu mati dengan terhormat. Sedangkan Bushido persamaan dari Samurai, dan juga tradisi Harakiri yaitu mati terhormat ala tradisi Jepang, dengan mengeluarkan isi perut dengan Katana atau pedang.
Bab 6 Fat Man, Little Boy, Dan Kekalahan Jepang.
         Pada bab ini diceritakan kelompok poros yang melawan sekutu, diantaranya Jepang, Jermna, dan Italia. Dijelaskan juga bagaimana Jepang terlibat dalam perang dunia, perang Pasifik, Invasi Jepang dan kekalahan Jepang pada perang karena dijatuhkannya bom di Hiroshima dan Nagasaki
         Dalam setiap bab dijelaskan mengenai pasukan militer Jepang dari awal munculnya negara Jepang sampai pada kekalahan Jepang dalam setiap perang, terutama perang dunia. Disini penulis lebih menonjolkan pada aksi-aksi heroik Jepang yang menyeret kaum muda Jepang secara suka rela untuk ikut bertempur dan mengorbankan dirinya dalam aksi Kamikaze, atau disebut aksi bunuh diri Jepang.
         Pembahasan utama tentang Kamikaze ini diulas pada ke-4, mungkin dalam hal ini penulis ingin menunjukan awal mula lahirnya tentara Jepang yang dulu lebih dikenal dengan Samurai. Sebenarnya militer Jepang telah lahir pada masa kekuasaan Nara (710-784), barulah pada tahun 1192-1868 ketika ke-Shogunan terbentuk maka benih militerisme Jepang pun muncul. Dan dari zaman itulah konsep Kamikaze telah diterapkan terutama memasuki pada Perang Dunia ketika negara Jepang mulai mendominasi daratan Asia dan Eropa.
C.    Penutup
Kelebihan dan Kekurangan buku:
         Dalam setiap karya yang telah berhasil diapresiasikan untuk khalayak pembaca, pastilah sang penulis tidak begitu sempurna dalam karyanya tersebut, ada kelebihan dan kekurangan yang terkandung didalamnya, termasuk buku yang berjudul “Kamikaze: Aksi Bunuh Diri “Terhormat” Para Pilot Jepang”, karangan Nando Baskara ini memiliki kelebihan dan kekurangan diantaranya:
1.      Kelebihan
a.Penulis menggunakan metode Narasi yaitu menceritakan gambaran persitwa, sehingga pembaca tidak akan bosan dengan tulisan yang ada didalamnya. Karena gaya penulisannya seperti kita sedang membaca cerita, akan tetapi pembahasannya mengenai sejarah
b.      Terdapat banyak gambar ilustrasi dari setiap kejadian, baik itu perang dan para samurai, serta adegan aksi para Kamikaze beserta gambar pesawatnya
c.Dalam buku tersebut juga diberi Footnote atau catatan kaki untuk setiap penggalan atau kutipan bahasa asing yang sulit dipahami. Sehingga dari Footnote ini pembaca mengetahui arti dari kata tersebut. Serta penjelasan-penjelasan panjang mengenai sejarah diluar pembahasan Kamikaze seperti, dijelaskan penemu bom atom yaitu Julius Robert Oppenheimer dan sediki penjelasan mengenai riwayatnya. Terdapat dihalaman 151.
d.      Banyak bahasa-bahasa Jepang yang tidak terdengar asing di telinga seperti Seppuku, Harakiri, dan juga yang asing ditelinga pembaca seperti, Chadao, Kadao, Litoko-Dori, Sengoku-Jidai dan lain sebagainya. Semua kata-kata asing itu diringi dengan penjelesannya, jadi pembaca tidak akan kesulitan dalam mengartikannya.
e.Harga buku terjangkau dan dapat dibaca oleh beberapa pelajar seperti siswa SMP, SMA, Mahasiswa dan umum.
f.   Sampul atau jilid buku terlihat menarik hingga menarik perhatian pembaca, sinopsis-nya juga terkesan simpel tapi memang sangat menarik minat pembaca terutama untuk mahasiswa yang berjurusan Sejarah.
2.      Kekurangan
a.Terdapat pembahasan yang sama di beberapa bab, atau disebut juga dengan pengulangan kata.
b.      Tidak adanya riwayat penulis buku
c.Tidak terdapat Glosarium
d.      Sumber mayoritas adalah sumber sekunder, dari majalah dan koran serta internet. Sumber buku hanya beberapa, paling banyak 2 atau 3 buku.
e.Tata letak pembahasan menurut peresensi sedikit janggal, karena seharusnya pembahasan Kmikaze-lah yang seharusnya didahlukan bukannya langsung pada peristiwa, lihat saja di sub-sub judulnya, judul utama ditempatkan pada bab ke-4, seharusnya diletakan di bab 1 atau 2 setelah pengenalan mengenai negara Jepang. Tapi mungkin itu karena penulis ingin agar kita mengetahui asal usul dari negeri Samurai itu atau yang sekarang dikenal dengan negeri Matahari Terbit.
f.    Tidak  terdapat satu petunjuk pun mengenai penulis buku, baik itu alamat e-mail penulis maupun media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain, tidak tercantum dibuku, di internet pun susah sekali menemukan profil atau biografi penulisnya.
 Catatan: untuk informasi penulis saya sulit untuk menemukannya, bila ada dari kakak-kakak yang tahu tolong beri koment di kolom komentar yaaah^^




Rabu, 10 Mei 2017

MAKAM CHINA DAERAH LONTAR-PONTANG-BANTEN



MAKAM CHINA DI DAERAH LONTAR
KECAMATAN PONTANG KABUPATEN SERANG-BANTEN
Sekapur Sirih
Dalam proses sejarah yang terlintas dari masa ke masa meninggalkan jejak-jejak peninggalan, berupa benda dan hal-hal lain yang bersangkutan dengan masa lampau, yang jarang sekali kita ketahui dalam sebuah peninggalan tersebut mempunyai makna dan arti tersendiri, bagaimana hal atau peristiwa itu terjadi dan bagaimana bisa semua itu ada, dan jarang kita ketahui sebab musabab mengapa benda atau peninggalan dalam sebuah peristiwa itu ada.
Mungkin kita sebut saja peristiwa itu sebagai peristiwa yang mengahrukan, menyenangkan, dan mungkin peristiwa berdarah, contohnya seperti perang dan hal seperti mempertahankan daerah kekuasaan dari penjajah. Sebuah peristiwa pasti meninggalkan kenangan buruk, mengingat peristiwa itu berasal dari masa lampau yang kini sudah terlupakan dan meninggalkan jejak kematian. Sebuah makam yang terdapat di desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang contohnya, makam tersebut pastilah memiliki kisah tersendiri didalamnya yang belum terkuak dan belum banyak diketahui orang.
Tidak jarang kita jumpai sejumlah besar peninggalan berupa makam dan bangunan lainnya seperti rumah tua dan lain sebagainya. Contoh kecil tadi yaitu  makam, terdapat banyak pemakaman di seluruh wilayah banten ini terutama di daerah Tirtayasa. Sebuah makam milik seorang etnis tionghoa atau orang-orang china, yang pada masa itu tinggal dan bermukim di desa Lontar. Bernama Antonius Sutikna Susilo, lahir 20 Januari 1929 dan meninggal 17 Agustus 1999 dan di makamkan di Desa Lontar.
Sekilas bisa kita lihat dan amati lebih jelas lagi, makam tersebut terletak di pedalaman Desa Lontar, tepatnya di pesisir pantai Lontar dengan pemandangan pantai dan juga empang-empang yang berjejer, makam tersebut diapit oleh kedua panorama itu yang tidak bisa dikatakan indah. Karena pantai dan empang kini seperti menyatu, dikarenakan sedikit demi sedikit pantai Lontar akan mengalami abrasi besar-besaran, yang jika tidak dihentikan akan mengalami kebanjiran.
Dua makam yang ada di posisi tersebut tidak bisa dikatakan aman, karena jika  terkena abrasi maka akan tenggelam sia-sia dan sisa-sisa makam tersebut tidak bisa terselamatkan. Mengingat pemerintah daerah sekitar masih belum peduli dengan makam tersebut, maka tak ada larangan atau imbauan apapun mengenai tidak atau diperbolehkannya masyarakat mendekati atau juga bersinggah meriah di sekitar makam, karena tidak adanya plang yang menyebutkan makam keramat atau makam bersejarah.
Jelas, hal itu membuktikan bahwa tidak adanya kesadaran masyarakat atau pemerintah daerah setempat untuk menjadikan makam tersebut sebagai makam yang dikeramatkan atau dijadikan sebuah cagar budaya yang pasti akan banyak diteliti oleh para sejarawan, mengapa, kenapa dan bagaimana makam ini ada di daerah pesisir yang sangat jarang diketahui oleh orang luar.
Dengan adanya imbauan, pasti akan adanya pemikiran yang muncul dari benak orang-orang sekitar mengapa makam ini ada disini, dan bagaimana peristiwa yang terjadi pada masa itu. Akan adanya banyak pertanyaan yang muncul dan itu adalah sebuah kesempatan bagi para peneliti untuk mencari tahu apa yang telah terjadi dan bagaimana kronologis dari peristiwa yang mengantarkan Antonius Sutikna Susilo menjelang ajalnya dan bagaimana kehidupannya sebelum terjadinya penjemputan ajal tersebut telah terjadi.
Deskripsi Bangunan Makam China 1
Makam orang China atau Etnis China ini terletak di desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Agak jauh dari pusat kota, karena letaknya tepat berada di sisi Serang Utara, dimana dekat dengan laut Lontar. Makam seorang Etnis China yang bernama Antonius Sutikna Susilo, telah dimakamkan disekitar pesisir laut Lontar dengan dikelilingi empang dan sejumlah pohon bakau di depan makam. Pemandangan sengit itu menjadi sebuah pertanyaan mengapa makam itu ada disana. Makam tersebut cukup besar dengan ukuran panjang 162 cm, tinggi 85 cm, lebar 136 cm, dan tebal makam 22 cm.
Dengan berbagai ukuran tersebut, jelas dalam benak kita bahwa makam itu bukan makam sembarang orang. Entah beliau itu adalah seorang pemuka atau apapun itu, makam tersebut sangatlah besar. Dan biasanya makam yang besar juga menandai bahwa seseorang yang dikubur didalamnya memiliki pengaruh besar bagi masyarakat sekitar pada jaman dahulu.
Bahan utama dari makam tersebut berupa batu karang yang dilapisi dengan keramik, sekilas makam itu terlihat bagus dan masih baru. Namun sang penghuni makam lahir ditahun dimana masih berhubungan erat dengan asal muasal terciptanya sejarah. Kondisi makam sangat baik, terdapat pagar penghalang disekitarnya, namun agak sedikit rusak. Kerusakan itu terjadi di pintu masuk yang tidak terdapat kunci dan atau pun gembok untuk mengunci makam tersebut.
Terletak dititik koordinat S050 56.557E.1060 19.186 Tenggara Laut. Bertepatan dengan sebelah utara dengan batas langsung sebelah Utara 0, Timur 0,29, Selatan 163, dan sebelah Barat dengan batas langsung 269. Makam itu dikelilingi pagar pembatas yang terbuat dari besi, terdapat beberapa undakan diatas makam sebagai anak tangga, karena makam itu cukup besar.
Deskripsi Makam China 2
Makam China yang kedua, yaitu sebuah batu nisan yang cukup besar dengan tulisan berbahasa China ditengah-tengahnya, dan belum diketahui apa makna dari tulisan tersebut. Terletak di desa Lontar, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Makam ini berada di depan atau paling depan dari makam Antonius Sutikna Susilo. Tidak ada pagar pembatas, hanya sebuah tumpukan semen dan siapapun bisa memasukinya, karena makam ini seperti sebuah beranda rumah.
Makam China yang satu ini agak sedikit luas, menurut dugaan yang ada, makam ini bisa dikatakan makam orang China yang umumnya berpengaruh besar terhadap masayarakat atau berjasa besar bagi masyarakat atau pemerintah setempat. Dengan ukuran nisan yang memiliki panjang 86 cm, dan lebar 55 cm, serta memiliki ketebalan 31 cm. Nisan ini sangat besar, seperti tugu dan ditengah-tengahnya terdapat tulisan berbahasa China.
Nisan tersebut berwarna putih dengan tulisan ditengah-tengahnya berlapiskan warna abu-abu. Bahan utama dari nisan ini adalah batu biasa. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai makam ini. Makam ini luas seperti beranda rumah dengan disekelilingnya terdapat juga satu nisan yang berbentuk segitiga, tapi tidak ada tulisan atau apapun yang dapat menandakan makam siapa dan apa tujuan dari dimakamkannya di bawah nisan besar yang seperti tugu itu.
Memiliki titik koordinat S 650 570 905’ E 1060 18.102'  dan batas langsung dari ssebelah Utara berbatasan dengan laut, dengan titik koordinat 0, SEBELAH Timur bersebelahan dengan Desa Lontar dengan titik koordinat 090, sebeleh Selatan berbatasan langsung dengan empang bertitik koordinat 179’, dan sebelah Barat berantarakan antara empang dan laut dengan koordinat 267’.
Kami menduga makam yang satu ini adalah sebuah tugu untuk mengormati perjuangan etnis china, atau sebuah penghormatan bagi orang-orang yang dimakamkan di tempat ini. Entah itu orang yang berpengaruh besar atau berjasa, yang jelas makam ini agak luas dan menurut penilaian yang ada, makam ini memang sebuah tugu peringatan. Karena di sekelilingnya juga terdapat makam dengan nisan yang berbeda dari tugu tersebut.
catatan: makam terletak tidak jauh ditepi pantai Lontar, tempat tersebut juga biasanya banyak dikunjungi oleh penduduk karena di Lontar juga tempat wisata bagi para remaja-remaja yang ingin menimati pemandangan laut.


                                                                                                                                   

Rabu, 26 April 2017

LAPORAN PENELITIAN: SEJARAH KERATON KAIBON BANTEN LAMA



DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...........................................................................................1
I.                   PENDAHULUAN.................................................................2
II.                TEKNIK PENGUMPULAN DATA......................................4
a.       Observasi........................................................................4
b.      Wawancara.....................................................................5
c.       Pendokumentasian...........................................................8
III.             DESKRIPSI HASIL LAPANGAN......................................12
IV.             PENUTUP............................................................................19
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................20
a.       Buku..............................................................................20
b.      Wawancara.....................................................................20

I.                   PENDAHULUAN
Sejarah merupakan sebuah peristiwa dan kejadian yang terjadi pada masa yang telah lalu. Di mana, masa tersebut merupakan bentuk awal dari sebuah kehidupan yang didalamnya terdapat beberapa tindakan atau keadaan yang menyebabkan situasi pada masa itu terbagi-bagi menjadi beberapa bagian diantaranya, situasi yang terbilang amat sulit misalnya adanya peperangan, perebutan kekuasaan, konflik politik, kekuatan untuk menjajah system perdagangan. Dan hasil dari kejadian tersebut meninggalakan jejak ayang amat sulit untuk dilupakan. Bahkan, kita sebagai manusia yang hidup setelah masa itu, masih bisa merasakan akan apa yang meninmpa kehidupan masa lalu yang bisa dikatakan, menyisakan sedikit rasa pilu terutama yang dirasakan masyrarakat, pemerintah, sultan yang dulu terjajah oleh belanda, hal tersebut dirasakan amat perih bagi penghuni provinsi banten.
Banten  mempunyai banyak latar belakang sejarah yang sangat panjang, dimulai dari masa prasejarah sampai dengan masa colonial. Menghasilkan peninggalan-peninggalan sejarah dan purbakala yang terbesar di seluruh wilayah provinsi banten. Masyarakat menyebutnya dengan bermacam-macam sebutan, antara lain benda kuno, benda antic, benda purbakala, monument, arkeologi (archeological remains), atau peninggalan sejarah (historical remains).[1]
Akan tetapi, peninggalan yang dibangga-banggakan itu pun kini hanya menjadi sisa, dimana mereka terbengkalai dan hanya menjadi sebuah pajangan. Meskipun begitu, amat bangga sekali kita bisa menjadi bagian dari daerah banten yang kaya akan sejarahnya, peninggalan-peninggalan yang menakjubkan, yang apabila mungkin kita bisa melihatnya di jaman dan diwaktu itu. Apa yang telah terjadi di banten ini adalah sebuah peristiwa yang mungkin sulit untuk diingat dan sulit pula dilupakan, terhitung banyak sudah penderitaan, pahit manis perjuangan, bahkan mungkin kesuksesan yang tidak berjalan sesuai keinginan. Dimana, keinginana menjadikan banten makmur, damai dan adil tak begitu terwujud. Namun, apa yang telah dibangun dan telah dirintis oleh sultan-sultan yang memerintah pada saat itu, dan semua itu masih berbekas, dan kita yang hidup sekarang masih bisa melihat apa yang telah diciptakan para pendahulu seperti peninggala-prninggalan, situs, dan banguan seperti masjid, keraton dan beberapa bangunan yang lainnya.
Di banten sendiri terdapat beberapa peninggalan salah satunya adalah peninggalan kesultanan banten yaitu keraton kaibon, yang dimana dibangun oleh salah satu keturunan sultan, dan beliau ini pun menjadi sultan yang selanjutnya yaitu sultan syafiuddin. Dalam pembahasan ini kami akan mencoba membahas mengenai keraton kaibon, yang menjadi pusat perhatian dari keraton ini adalah disalah satu bangunan masih terlihat utuh, yaitu sebuah masjid dengan lantainya yang utuh, gerbang-gerbang yang masih berdiri tegak semua itu masih bisa kita lihat dan dengan mudah kita bisa mencapai tempanya.
Kaibon sendiri berasal dari kata ke-ibu-an, yang berarti keraton tempat tinggal ibu (sultan). Komplek keraton kaibon yang terletak di Kampung Kroya merupakan tempat kediaman ratu asyiah, ibunda sultan syafiuddin. Dari laporan hasil peneitian kami ini setidaknya berisikan sedikit beberapa temuan dan permasalahan yang terjadi ada masa penghancuran tersebut.


II.      Teknik Pengumpulan Data
A.    Observasi
Awal sebelum melakukan observasi persiapan yang kami lakukan adalah mempersiapkan alat-alat yang akan kami gunakan dilapangan, diantaranya adalah: alat tulis sebagai media untuk mencatat materi yang disampaikan, alat perekam untuk mewawancarai narasumber, kamera untuk mengambil gambar keraton kaibon, dan meteran untuk mengukur gerbang bentar, paduraksa, serta ruangan dan kamar. Setelah itu kami mulai melakukan perjalanan menuju situs keraton kaibon.
 Sesaat setelah itu, kami meminta ijin terlebih dahulu kepada pihak yang berwenang atas pengurusan keraton kaibon untuk melakukan observasi, setelah itu kami menemui salah satu juru kunci yang mengetahui banyak tentang keraton kaibon, kami mewawancari narasumber dan bertanya banyak tentang sejarah awal berdirinya, sultan yang memerintah, dan pengahancuran terhadap keraton kaibon itu sendiri, kami menggunakan alat perekam untuk merekam apa saja kata-kata yang terlontar dari narasumber, sehingga mudah bagi kami untuk mendengarkannya berulang-ulang dan tidak lupa juga, kami mencatat semua pertanyaan yang kami tanyakan kepada narasumber. Setelah itu, kami menyusuri beberapa tempat di keraton tersebut dan melihat-lihat, serta mengukur beberapa peninggalan yang masih berdiri tegak sampai sekarang dan masih terlihat jelas fungsinya untuk apakah bangunan itu, diantaranya yaitu sebuah pintu gerbang yang berjejer terdiri dari lima pintu yang dinamakan gerbang bentar, dan gerbang yang tedapat di dalam keraton yaitu gerbang paduraksa, serta beberapa ruangan yang diduga sebagai kamar dari ibunda sultan syafiuddin yaitu ratu aisyah.
Dan setelah data sumber yang kami cari terkumpulkan sudah, kami melakukan pemverifikasian terhadap sumber yang kami kumpulkan tersebut, serta kami analisis lebih lanjut lagi. Dalam observasi yang kami lakukan dilapangan ada beberapa sumber lisan dari narasumber yang berbeda dari sumber yang kami temukan dipustaka dalam artian didalam buku. Namun, perbedaan pendapat dalam sebuah penelitian itu adalah hal yang wajar, maka dari itu kami menuliskan kedua pendapat yang berbeda tersebut, dikarenakan pendapat subjektivitas dari kami pun tidak didukung begitu banyak pihak. Hal tersebut bagi kami tidak menganggapnya sebagai permasalahan. Setelah itu kami susun sedemikian rupa laporan penelitian kami dalam sebuah penulisan.
B.     Wawancara
Wawancara yang kami lakukan pada hari minggu, 14 desember 2014, tepatnya pada siang hari ba’da dzuhur di lingkungan sekitar keraton kaibon, kami melakukan wawancara tersebut didalam bagian bangunan yang masih terlihat utuh yaitu tepatnya di masjid yang berada didalam keraton kaibon. Kami mewawancarai salah seorang juru kunci yang tahu betul mengenai keraton kaibon, narasumber tersebut adalah bapak Mulangkara selaku staf pengelola kawasan peninggalan sejarah Istana Kaibon, kami mengajukan beberapa pertanyaan dan mendapatkan jawabannya terkait keraton kaibon diantara pertanyaanya dan jawaban tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Apa makna dan arti dari gebang bentar yang bersayap serta mengapa gerbang tersebut didirikan menjadi 5 pintu yang berjejer, dan gerbang paduraksa yang dibangun didalam keraton, dan bagaimana pintu tersebut di fungsikan?
Jawaban-nya adalah gerbang bentar yang bersayap mengandung makna bahwa gerbang tersebut selalu dilewati siapa saja, dan arti dari 5 pintu itu bermaknakan rukun islam, sedangkan gerbang paduraksa adalah pintu yang disakralkan maka dari itu dibangun ditengah-tengah ruangan.
2.      Siapakah sultan terakhir banten?
Jawaban-nya bahwa sultan terakhir banten adalah, sultan maulana syafiuddin yang ke-21
3.      Benarkah bahwa sultan rafiuddin salah satu keturunan dari kesultanan banten?
Jawaban-nya adalah beliau sama sekali tidak ada jalur keturunannya dengan sultan banten, hubungannya adalah dengan menikahi salah satu putri dari sultan syafiuddin, maka dari itu meskipun beliau menjadi sultan tapi, beliau bukanlah sultan yang terakhir, sebagaimana disebutkan diatas sultan terakhir adalah sultan maulana syafiuddin.
4.      Siapakah yang sebenarnya membangun keraton kaibon, pada hal waktu itu sultan syafiuddin masih berumur 5 atau 9 tahun?
Jawaban-nya adalah, keraton tersebut dibangun sebagai hadiah untuk ibunda ratu aisyah, hanya itulah jawaban dari pertanyaan ini. Bisa disimpulkan bahwa jawaban ini hanya dapat kami berikan melalui pendapat subjektivitas menurut pandangan kami.

5.      Mengapa sultan syafiuddin diasingkan di surabaya?
Jawaban-nya adalah, karena sultan syafiuddin dituduh membantu bajak laut selat sunda atu orang-orang yang melawan penjajah.
Dalam wawancara tersebut ada sedikitnya jawaban yang tidak terjawab oleh narasumber dikarenakan berita, bukti dan lain sebagainya belum diketahui oleh beliau, dan juga beliau mengatakan bahwa terdapat berbagai pandangan dan pendapat mengenai keraton kaibon, hal tersebut mungkin sudah menadi bagian dari sejarah, dimana berbagai pendapat dan pandangan yang berbeda selalu mengiringi sejarah. Bukan hanya karena sumber dan bukti saja bahkan, fakta yang seharusnya ada juga dipertaruhkan dalam hal ini. Namun yang menjadi masalah yang paling sulit dalam hal penelitian memang benar adanya bahwa faktalah yang menjadi pegangan sebuah penelitian, bukan hanya karena pendapat dan pandangan dari logika dan pikiran manusia.
Demikian wawancara yang kami lakukan dengan bapak mulang tara, meskipun ada beberapa jawaban yang kurang pas dan mengena, tapi kami akan berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan jawaban yang lebih dari sekedar jawaban. Maka dari itu, kami akan mencarinya melalui buku-buku dan data lain-nya.

C.     Pendokumentasian
1.      Gerbang Bentar
 
gerbang ini memiliki 5 pintu yang melambangkan rukun islam, sayapnya bermakna bahwa setiap orang bisa melewati pintu utama ini.

2.      Gerbang Paduraksa
gerbang paduraksa terletak didalam keraton kaibon. Mengapa gerbang ini terletak didalam kerataon? Karena pintu ini amat sakral.

3.      Mihrob Masjid
 
kelompok keraton kaibon saat melakukan pengukuran mihrob masjid di keraton kaibon. Di keraton ini lokasi penempatan bangunan masjid  yakni di halaman kedua.

4.      Kamar Ratu Aisyah
 
kamar ini diduga sebagai kamar ratu aisyah, karena didalam kamar ini terdapat tanah yang menjorok kebawah, diduga bahwa itu adalah pendingin ruangan.

 
kelompok keraton kaibon saat melakukan pengukuran kamar ratu aisyah.


Saat melakukan wawancara kelompok keraton kaibon dan kelompok yang lain dengan bapak mulang kara.
Kelompok keraton kaibon saat berada area sekitar keraton, tepatnya disampaing halaman masjid.

Kelompok keraton kaibon saat melakukan pengukuran di dalam masjid.




III.             Deskripsi Hasil Lapangan
A.    Sejarah Terbentuknya Keraton Kaibon
Kawasan Banten Lama di Kabupaten Serang banyak meninggalkan bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satu bangunan yang masih tersisa adalah Keraton Kaibon yang terletak di Kampung Kroya, sekitar 500 meter sebelah tenggara keraton surosowan[2], Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Keraton kaibon menjadi salah satu bangunan cagar budaya Provinsi Banten yang menyimpan cerita kejayaan Kerajaan Banten Lama. Keraton Kaibon merupakan salah satu bangunan utama pada masa Kesultanan Banten (1526-1684), terpisah dari kompleks Keraton Surosowan sebagai pusat pemerintahan. Hal ini merupakan tradisi masyarakat Jawa dimana Keraton Kaibon merupakan tempat tinggal para istri dan Putri-putri Kesultanan. Dengan kata lain yang lebih populer bahwa Keraton Kaibon adalah Keputrennya Kesultanan Banten. Terletak kurang lebih 2 km dari Pusat Pemerintahan Keraton Surosowan yang dikelilingi persawahan dan jalur transportasi sungai (atau lebih tepatnya kanal khusus yang dibuat pada waktu itu).
Keraton ini dibangun pada tahun 1815, menjadi keraton kedua di Banten setelah Keraton Surosowan. Berbeda dengan Keraton Surosowan, sebagai pusat pemerintahan, Keraton Kaibon dibangun sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah. Hal ini dikarenakan Sultan Syafiuddin sebagai Sultan Banten ke 21 saat itu usianya masih 5 tahun adalah putra dari sultan muhyiddin zainul shalikhin. Nama Kaibon sendiri dipastikan diambil dari kata keibuan yang memiliki arti bersifat seperti ibu yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Tahun pada 1813 kaibon menjadi pusat pemerinthanan dibawah kepemimpinan sultan muhammad syafiuddin yang baru berusia 9 tahun, kemudian kesultanan banten dihapus oleh belanda dan dinyatakan masuk dalam wilayah teritorial batavia dan dibagi menjadi beberapa bagian yaitu
•Banten lor/serang
•Banten tengah/pandeglang
•Banten kidul/lebak
•Banten kulon/caringin
                        mulai tahun 1816-1827 kaibon menjadi pemerintah kabupaten banten lor yang dipimpin oleh pangeran arya adi santika pada tahun 1828, sebagai bupati banten yang pertama yang mendapat dukungan belanda sebagai ganti pemerintahan kesultanan banten yang dihapuskan oleh belanda mulai tahun 1813. Pada tahun 1809 mulai dikerjakan pembuatan jalan pos dari anyer sampai panarukan banyuwangi sepanjang kurang lebih 1000 km. Sehingga perjalanan 40 hari dapat dipersingkat menjadi 6 hari. Jalan dikerjakannya hanya dalam tempo satu tahun dengan mengorbankan beribu-ribu rakyat banten.[3]
Pada tahun 1832 keraton kaibon ini dihancurkan oleh belanda yang dipimpin oleh daendels, dimana awal mula penghancurannya yaitu dikarenakan daendels ingin melanjutkan kembali jalan anyer sampai panarukan,  akan tetapi sultan syafiuddin menolak untuk mengirimkan rakyat untuk bekerja paksa (kerja rodi) dan hingga utusan dari daendels yaitu du puy ia dipancung dan kepalanya di serahkan kepada daendels. Dan juga pelabuhan armada belanda di teluk lada ( di labuan). Dengan kejadian itu daendels pun marah besar sehingga ia mneghancurkan kaibon, besreta keraton surosowan yang tak jauh lokasainya dari keraton kaibon. Materialnya diangkut ke serang untuk membangun pusat pemerintahan belanda di serang. Yang masih terlihat sekarang hanya sebagian pondasi, tembok, serta gapura/pintu gerbang.[4]
B.     Lokasi keraton kaibon
Kompleks bangunan ini terletak dikampung kroya lama, kelurahan kasunyatan, kecamatan kasemen, kota serang, sekitar 500 M dari keraton surosowan, lebih kurang 1 km sebelum masjid agung banten[5], dan berada disisi jalur jalan serang banten lama disisi selatan kompleks bangunan ini mengalir sungai cibanten. Luas kraton ini kurang lebih 2 hektar dan dikelilingi kanal sebagai sarana transportasi dan pertahanan.  Keraton kaibon merupakan bekas kediaman sultan syafiuddin, seorang sultan banten yang memerintah sekitar tahun 1809-1813.[6]

C.     Fungsi dan deskripsi bangunan keraton kaibon
Keraton kaibon mempunyai banyak sekali fungsi selain sebagai tempat tinggal atau kediaman ratu asyiah, Keraton yang berdiri di tanah seluas mencapai 2-4 hektar ini, dibangun menggunakan batu bata yang terbuat dari pasir dan kapur. Walaupun telah hancur, namun terlihat jelas sekali bagaimana kita bisa menyimpulkan beberapa bangunan yang berfungsi pada waktu itu. Diantaranya:
1.      Punggawa
a.        yang berfungsi sebagai rumah dinas
b.      Bangunannya berbentuk persegi empat, memiliki sebuah pintu besar yang dinamai pintu dalam. Bangunan ini terletak di halaman dekat dengan pintu.
2.      Gerbang bentar
a.       Di pintu gerbang sebelah barat menuju masjid kaibon terdapat tembok yang dipayungi sebuah pohon beringin pada tembok tersebut terdapat lima pintu bergaya bali, gerbang pertama yang dikenal dengan gerbang bentar memiliki lima pintu yang bergaya bali arti dari lima pintu itu melambangkan rukun islam, sedangkan sayap yang terdapat pada pintu tersebut melambangkan bahwa gerbang tersebut selalu dilewati orang yang berlalu lalang, siapa saja bisa melewati gerbang tersebut seperti para kerabat, pengawal, atau pelayan-pelayan.[7] Jadi, fungsi utama dari gerbang bentar adalah sebagai tempat berlalu lalangnya untuk semua orang.
b.      Gerbang bentar memiliki sayap pada ujung pintunya, berbentuk seperti tandunk, gaya arsitekturnya yaitu bergaya bali. Ukuran tembok itu panjangnya 80 meter dan tingginya 2 meter.
3.      Gerbang Paduraksa
a.       Gerbang ini terdapat didalam ruangan, yaitu gerbang gerbang paduraksa yang bergaya jawa, yang menghubungkan bagian depan dengan ruang utama keraton, gerbang ini memiliki makna bahwa tidak semua orang bisa melewati gerbang itu, hanya ratu asyiah dan orang-orang yang berkepentingan saja yang bisa melewatinya dikarenakan gerbang tersebut dianggap sakral dan gerbang tersebut langsung menuju ruangan ratu asyiah dan tidak semua orang bisa memasukinya. Jadi, fungsi utama dari gerbang paduraksa adalah sebagai tempat lewatnya para ratu dan tidak semua orang bisa melewatinya.
b.      Gerbang paduraksa (khas bugis) lebih tinggi dibanding dengan gerbang bentar, arsitekturnya yaitu bergaya jawa, dan gerbang ini terdapat didalam keraton.
4.       Mihrob Masjid
a.        Fungsi utama dari mihrob ini adalah pada masa kesultanan adalah tempat  imam sholat dan tempat berkhutbah sholat jum’at, pada saat itu yang memimpin sholat adalah sultan syafiuddin. Sedangkan fungsi sekarang adalah untuk photo prewedding dan sebagai objek wisata berphoto.
b.      Di keraton ini lokasi penempatan bangunan masjid  yakni di halaman kedua,  yang tersisa hanya mihrobnya dan lantai-lantainya saja dan sampai sekarang pun lantai dan mihrob nya masih terlihat kokoh.
5.      Kamar Ratu Aisyah
a.       Kamar ratu aisyah tentu saja sebagai tempat untuk ratu tidur didalam keraton kaibon.
b.      Deskripsi dari kamar ratu aisyah ini berbentuk sebuah persegi empat dengan bagaian dasarnya yang lebih rendah atau menjorok kedalam tanah, ruangan yang lebih menjorok ini digunakan sebagai pendingin ruangan yang alami dengan cara mengalirkan air kedalamnya melalui saluran air yang berasal dari sungai cibanten.
Arsitektur karaton akibon ini memang sungguh unik karena sekeliling keraton sesungguhnya adalah saluran air. Artinya bahwa keraton ini benar-benar dibangung seolah-olah di atas air, semua jalan masuk dari depan maupun belakang ternyata memang benra-benar harus melalui jalan air. Dan meskipun keraton ini didesain sebagai tempat ibu raja, tampak bahwa ciri-ciri bangunan keislamannyatetap ada, karena ternyata inti bangunan ini adala sebuah mesjid dengan pilar-pilar tinggi yang sangat megah dan anggun.
Dalam konsep arsitektur hindu, pembedaan jenis pintu bentar dan paduraksa mengacu pada jenis/ fungsi bangunan sakral/profan. Lokalitas tradisional siti hinggil pada keraton jawa pada umumnya, keraton kaibon ini menjadi lokasi penempatan bangunan masjid, yakni dihalaman kedua. Bangunan masjid ini berada di sisi kanan gerbang. Selain pilar yang masih utuh, di dalam bangunan tersebut juga terdapat mimbar yang berfungsi sebagai tempat berdirinya khotib.
Di bagian lain, yaitu sebuah ruangan persegi empat dengan bagian dasarnya yang lebih rendah atau menjorok ke dalam tanah, merupakan kamar dari Ratu Asyiah. Ruang yang lebih rendah ini diduga digunakan sebagai pendingin ruangan dengan cara mengalirkan air di dalamnya dan pada bagian atas batu diberi balok kayu sebagai dasar dari lantai ruangan. Bekas penyangga papan masih terlihat jelas pada dinding ruangan ini.
Arsitektur Keraton Kaibon ini memang sungguh unik karena sekeliling keraton sesungguhnya adalah saluran air. Artinya bahwa keraton ini benar-benar dibangun seolah-olah di atas air. Semua jalan masuk dari depan maupun belakang ternyata memang benar-benar harus melalui jalan air.
Dan meskipun keraton ini memang didesain sebagai tempat tinggal ibu raja, tampak bahwa ciri-ciri bangunan keislamannya tetap ada; karena ternyata bangunan inti keraton ini adalah sebuah mesjid dengan pilar-pilar tinggi yang sangat megah dan anggun. Dan kalau mau ditarik dan ditelusuri jalur air ini memang menghubungkan laut, sehingga dapat dibayangkan betapa indahnya tata alur jalan menuju keraton ini pada waktu itu.


IV.             Penutup
Keraton kaibon adalah sebuah kediaman yang dibangun dan dihadiahkan kepada ibu sultan, yaitu sultan maulana muhammad syafiuddin putra dari sultan terdahulu yaitu sultan muhammad muhyiddin zainussalikhin, sultan syaifuddin membangun keraton dan memberikannya kepada ibunda tercinta ratu aisyah. Keraton ini dibangun pada tahun 1815, dengan pemerintahan yang dipimpin ibundanya, karena pada saat itu sultan syafiuddin masih berumur 5-9 tahun. Gaya arsitektur hindu, buddha, eropa dan juga ada gaya chinese karena masjid yang berada didalam keraton tersebut. Keraton in pada awalnya dikelilingi air, maka dari itu terdapat kanal di sekeliling keraton tersebut.
Namun sayang pada tahun 1832 keraton ini dihancurkan oleh belanda yang dipimpin herman willem daendels, kehancuran ini disebabkan karena sultan syafiuddin menolak untuk melanjutkan proyek pembangunan jalan dari anyer sampai panarukan, dimana daendels mengirim seorang pengawal untuk menyampaikan pesannya tersebut, akan tetapi sultan syaifuddin menolak untuk melanjutkan pembangunannya dan membunuh pengawal tersebut hingga akhirnya daendels marah besar dan menghancurkannya, penghancuran tersebut juga berimbas kepada keraton surosowan yang terletak tak jauh dari keraton kaibon.




DAFTAR SUMBER

a.      Buku
1.      Ardianto, Tasrif, Dokumentasi Benda Cagar Budaya Dan Kepurbakalaan Provinsi Banten, Serang, Dinas Budaya Dan Pariwisata Provinsi Banten (2011).
2.      Juliadi, dkk, Ragam Pusaka Budaya Banten, Serang, balai pelestarian peninggalan purbakala serang. (2005).
3.      Michrob, Halwany, dan Mudjahid Chudari, Proses Islamisasi Di Banten Cuplikan Buku Catatan Masa Lalu, Serang, Perpustakaan Halwany, (2006).
4.      Matindas, dkk, Banten From Space, Jakarta, BAKOSURTANAL. (2006).
5.      Rafiudin, Hafidz, Riwayat Kesultanan Banten, Serang, SAUDARA. (2006).
6.      Najib, Tubagus, dan Sugeng Ryanto, Banten Budaya Dan Peradabannya, Jakarta, Banten Pengembangan Kebudayaan Dan Pariwisata Deputi Bidang Pelestarian Dan Pengengmbangan Budaya Pusat Penelitian Arkeologi. (2002).
b.      Wawancara
Wawancara dilakukan dengan bapak mulang kara selaku staf pengelola kawasan peninggalan sejarah istana keraton kaibon.



[1] Tasrief Ardianto, Dokumentasi Benda Cagar Budaya Dan Kepurbakalaan Provinsi Banten, Serang, Dinas Budaya Dan Pariwisata Provinsi Banten (2011), Hlm 2.
[2] Juliadi, dkk, Ragam Pusaka Budaya Banten, Jakarta, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang. (2005). Hlm 99-102.
[3] Rafiudin, Hafidz, Riwayat Kesultanan Banten, Serang, SAUDARA. (2006). Hlm 102-104.  
[4] Ibid1.
[5] Matindas, dkk, Banten From Space, Jakarta, BAKOSURTANAL SERANG. (2006). Hlm 97.
6 Najib, Tubagus, dan Sugeng Ryanto, Banten Budaya Dan Peradabannya, Jakarta, Banten Pengembangan Kebudayaan Dan Pariwisata Deputi Bidang Pelestarian Dan Pengenmbangan Budaya Pusat Penelitian Arkeologi. (2002).
 [7] Michrob, Halwany, dan Mudjahid Chudari, proses islamisasi di banten cuplikan buku catatan masa lalu, Serang, BAKOSURTANAL SERANG, (2006). Hlm 134.

OTONOMI DAERAH MASA REFORMASI

OTONOMI DAERAH MAKALAH Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Pergerakan Indonesia Modern   Disusun ...